Testimony Anekdot Record Program PJJ S1 PGSD

Mengawali postingan di blog khusus para Alumni PJJ S1 PGSD ini, sebagai postingan perdana, penulis sekaligus Admin dari blog ini ingin berbagi pengalaman selama mengikuti perkuliahan pada Program PJJ S1 PGSD. Membaca judul dari postingan ini mungkin Anda terpikir akan perkara pidana. Anda sudah sering mendengar kata “testimony” yang kurang lebih artinya kesaksian dalam perkaran-perkara pidana atau hal-hal lainnya. Akan tetapi penulis hanya ingin memberikan kesaksian melalui sebuah catatan pengalaman tentang Program PJJ S1 PGSD baik berupa pengalaman yang mengesankan, lucu, manfaat program ini, maupun pengalaman pahit yang dialami penulis. Baiklah, saya tidak perlu banyak berkomentar, kita simak saja apa yang menjadi pengalaman saya selaku penulis dalam mengikuti perkuliahan pada Program PJJ S1 PGSD berikut ini.
 Kualifikasi pendidikan sarjana menjadi sebuah tuntutan bagi para guru khususnya di sekolah dasar dalam rangka meningkatkan kompetensi. Dari sekian banyak guru yang ada di Provinsi Gorontalo khususnya di Kabupaten Boalemo, masih banyak para guru yang belum memenuhi kualifikasi pendidikan sarjana. Tuntutan inilah yang menjadi faktor utama para guru untuk berlomba-lomba melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Namun tentu hal ini bukan menjadi satu-satunya faktor yang mendorong para guru untuk melanjutkan studinya, akan tetapi intinya adalah peningkatan kompetensi guru itu sendiri dalam kapasitasnya sebagai pengajar, pendidik maupun pembimbing yang pada akhirnya akan berimbas pada peningkatan kualitas peserta didik khususnya maupun kualitas pendidikan pada umumnya.
Salah satu program pemerintah dalam rangka memenuhi kualifikasi pendidikan sarjana bagi para guru adalah dengan memberikan beasiswa untuk melanjutkan studi ke jenjang sarjana khususnya bagi para guru yang masih memiliki ijazah diploma. Program beasiswa ada yang berasal dari pemerintah daerah, lembaga swasta, maupun dari pemerintah pusat. Salah satu program beasiswa yang telah dijalankan oleh pemerintah dalam hal ini Dirjen Pendidikan Tinggi dan Menengah adalah Program PJJ S1 PGSD. Program pendidikan ini sistem pembelajarannya berbasis IT, di mana para mahasiswa dan dosen melaksanakan perkuliahan jarak jauh dengan memanfaatkan sarana internet untuk kuliah secara online. Sebelum program ini dicanangkan, awalnya berbasis KKG, namun karena adanya perubahan, maka program PJJ S1 PGSD muncul sebagai suatu program baru khususnya di Universitas Negeri Gorontalo.
Mahasiswa yang terjaring pada program ini antara lain dari Kabupaten Boalemo berjumlah 51 orang dan Kabupaten Pohuwato berjumlah 69 orang, yang sebenarnya kuota untuk masing-masing Kabupaten berjumlah 60 orang, namun karena yang lulus seleksi hanya 51 orang dengan standar IPK 2,25, maka Boalemo hanya memperoleh kuota 51 orang, sementara sisanya dialihkan ke Pohuwato.
Di awal semester 1 Tahun Akademik 2006/2007, pada waktu itu perkuliahan masih berbasis KKG (Kelompok Kerja Guru), para dosen dan mahasiswa bertatap muka langsung dalam perkuliahan di kabupaten masing-masing. Berbasis KKG maksudnya para guru dikelompokkan atas beberapa kelompok guru antara lain untuk wilayah Kabupaten Boalemo terdiri dari 5 kelompok kerja guru yakni Paguyaman 2 kelompok, Paguyaman Pantai dan Wonosari 1 kelompok, dan Tilamuta 2 kelompok.
Perkuliahan berjalan lancar tanpa hambatan dalam menyelesaikan seluruh mata kuliah pada semester 1. Pada semester 2, sistem perkuliahan mengalami perubahan dengan dicanangkannya Program PJJ S1 PGSD yang berbasis IT. Semester 2 ini menjadi momen yang paling tepat bagi para mahasiswa yang berstatus guru untuk mengenal teknologi IT, karena semua mahasiswa disyaratkan untuk menguasai komputer sekaligus internet. Seluruh mahasiswa baik Boalemo maupun Pohuwato berlomba-lomba untuk mempelajari komputer di samping pembelajarannya diperoleh dari perkuliahan karena ada satu mata kuliah Pembelajaran Komputer yang diajarkan.
Sistem pembelajaran yang diterapkan pada Program PJJ S1 PGSD yakni tutorial secara online dirasakan sangat bermanfaat bagi para mahasiswa yang berada jauh dari lokasi perguruan tinggi. Tuntutan penguasaan IT mendorong para mahasiswa untuk senantiasa mengenal lebih mendalam tentang internet, karena seluruh tugas dikerjakan secara online dan feedbacknyapun secara online baik dari mahasiswa maupun dari dosen pembimbing.
Walaupun dengan adanya keterbatasan sarana internet di daerah masing-masing dalam hal ini di Kabupaten Boalemo, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat para mahasiswa terutama penulis sendiri sebagai salah satu mahasiswa untuk senantiasa mengikuti tutorial online. Hambatan tentang terbatasnya jaringan internet, seperti warnet yang tidak ada di lokasi masing-masing diantisipasi oleh mahasiswa dengan memanfaatkan handphone sebagai modem. Jardiknas yang ada di daerah masing-masing dirasakan belum dapat menampung para mahasiswa yang ingin online di waktu-waktu tertentu. Oleh karena itu, alternatif tersebut ditempuh oleh para mahasisiwa untuk mengantisipasi keterbatasan sarana.
Waktu berlalu tanpa terasa, para mahasiswa merasa bahwa kompetensi seorang guru tidak hanya mampu berdiri di depan kelas, tetapi lebih dari pada itu harus menguasai teknonologi khususnya IT. Belajar komputer bagi mereka bukanlah lagi menjadi satu tuntuntan tetapi menjadi satu kebutuhan, baik dalam perkuliahan maupun dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Oleh karena itu, banyak para mahasiswa berusaha untuk membeli perangkat komputer (PC Desktop) maupun laptop untuk menunjang kegiatan mereka masing-masing, begitu pula penulis sendiri. Kemampuan penguasaan komputer maupun internet yang sedikit dimiliki oleh penulis, ditularkan kepada rekan-rekan mahasiswa, bahkan penulis sering mengadakan bimbingan khusus bagi rekan-rekan mahasiswa tentang permasalahan yang mereka hadapi dalam bidang komputer.
Keuntungan lain yang didapat oleh para mahasiswa selain ilmu adalah pendanaan perkuliahan yang seluruhnya ditanggung oleh pemerintah melalui dana beasiswa Program PJJ S1 PGSD yang tidak pernah dirasakan oleh mahasiswa lain yang berprofesi sebagai guru dan mengikuti perkuliahan layaknya para mahasiswa di PJJ. Di samping itu pula, sistem perkuliahan yang praktis namun berkualitas dirasakan memudahkan para mahasiswa untuk mengikutinya. Modul pembelajaran berbentuk digital selain berbentuk hardcopy, semua sudah tersedia.
Perkuliahan sampai dengan semester 5 tidak begitu bermasalah bagi para mahasiswa, baik dalam mengikuti tutorial tatap muka maupun tutorial online. Satu hal yang sangat menggelikan adalah ketika mengikuti mata kuliah bahasa Inggris. Rata-rata para mahasiswa PJJ S1 PGSD dari Boalemo yang semuanya berstatus sebagai guru tetap tidak memiliki latar belakang pendidikan khusus bahasa Inggris, namun karena bahasa Inggris menjadi salah satu mata pelajaran di Sekolah Dasar, maka para guru harus berusaha belajar dan mengajarkannya kepada peserta didik.
Pengalaman tentang mata kuliah bahasa Inggris, yakni ketika dosen pemberi mata kuliah memberikan tugas kepada para mahasiswa untuk membuat RPP sekaligus praktek mengajar di depan mahasiswa lainnya. Giliran seorang teman ditugaskan untuk mengajarkan tentang nama-nama buah-buahan semua berjalan lancar ketika di awal pembelajaran. Nama-nama buah-buahan dapat dilafalkan dengan baik oleh praktikan, ketika melafalkan pineapple (nenas) si praktikan diam sejenak, tidak tahu lagi apa yang akan diucapkannya, akhirnya keluar dari mulutnya lafal pineapple (lafal: ”painapl”) menjadi ”pinepe” dengan bahasa Indonesia yang fasih. Sontak kelas menjadi ribut sambil tertawa mendengar apa yang dilafalkan oleh praktikan tersebut. Peristiwa ini sampai sekarang masih tetap dikenang oleh para alumni mahasiswa PJJ S1 PGSD ketika bertemu atau sedang berkumpul bersama.
Selanjutnya pada mata kuliah Pemantapan Praktek Lapangan (PPL) para mahasiswa melaksanakan praktek mengajar dengan dipandu oleh seorang guru pamong di masing-masing kelompok di wilayah kecamatan masing-masing. Para mahasiswa melaksanakan praktek mengajar untuk empat mata pelajaran masing-masing 2 mata pelajaran eksakta dan 2 mata pelajaran non eksakta. Kegiatan pembelajaran direkam menggunakan handycam dan sebagian ada yang menggunakan kamera digital. Hasil pelaksanaan praktek mengajar dilaporkan kepada dosen pembimbing masing-masing baik dalam bentuk laporan tertulis maupun rekaman pelaksanaan pembelajaran di kelas yang dikemas dalam bentuk CD.
Dari seluruh rangkaian mata kuliah yang telah diikuti oleh para mahasiswa, salah satu mata kuliah yang dirasakan berat dan mengalami beberapa kendala adalah Elektronik Tugas Akhir (ETA). Para mahasiswa dibimbing secara online terkait dengan tugas akhir yang dilaksanakan, dari menetapkan permasalahan yang diteliti berupa analisis situasi sampai dengan penyusunan laporan secara online. Elektronik Tugas Akhir merupakan hal yang baru bagi para mahasiswa pada umumnya, tetapi ini menjadi salah satu tantangan bagi para mahasiswa PJJ S1 PGSD. Selain laporannya dalam bentuk file powerpoint, sistimatika penulisannya beda dari tugas akhir pada umumnya bahkan menggunakan hyperlink. Hyperlink adalah mengaitkan antara satu dokumen portofolio dengan dokumen lainnya dalam sebuah laporan yang disajikan. Hal ini pun menjadi satu kendala bagi para mahasiswa yang awam dengan apa yang disebut dengan hyperlink. Dalam penyusunan ETA, sempat terjadi beda pendapat, di satu sisi ETA merupakan tuntutan bagi para mahasiswa PJJ S1 PGSD dalam rangka menyelesaikan rangkaian studinya pada program tersebut, di sisi lain ETA dianggap bukan menjadi patokan untuk menjadi sebuah laporan akhir dalam sebuah kegiatan perkuliahan karena hanya dalam bentuk digital (elektronik). Akhirnya disepakati para mahasiswa ditugaskan untuk membuat ETA sekaligus skripsi tertulis sebagai bukti otentik seorang mahasiswa yang pernah mengenyam pendidikan dalam sebuah perguruan tinggi. Dengan adanya ETA ini, menjadi salah satu hal yang seharusnya dilaksanakan oleh pihak lembaga dalam hal ini Universitas Negeri Gorontalo (UNG) untuk mendokumentasikan ETA dalam bentuk e-library (perpustakaan elektronik) untuk menjadi bahan referensi elektronik selain referensi tertulis lainnya.
Pengalaman selama mengikuti perkuliahan pada program PJJ S1 PGSD ini menjadi satu catatan penting bagi penulis selaku mahasiswa PJJ S1 PGSD dalam rangka pemenuhan kualifikasi pendidikan sarjana dan peningkatan kompetensi seorang guru.
Namun di balik usaha dan kerja keras penulis dalam meraih kesuksesan dalam rangka memenuhi kualifikasi pendidikan sarjana, ada satu kekecewaan tersendiri dalam diri penulis. Setelah menyelesaikan pendidikan Sarjana dan memperoleh Ijazah, selanjutnya proses penyesuaian Ijazah sarjana yang diusulkan oleh penulis melalui BKD-Diklat Kabupaten Boalemo untuk diteruskan ke BAKN Manado, akan tetapi ternyata ditolak dan Ijazah penulis tidak diakui. Hal ini didasarkan pada tugas pokok penulis sebagai guru berdasarkan SK Pengangkatan pertama adalah Guru Agama Islam, sementara kompetensi kesarjanaan penulis yakni S1 PGSD tidak sesuai tupoksi. Ini yang menjadi alasan pihak BAKN untuk menolak penyesuaian Ijazah penulis.
Kenyataan seperti ini bukan saja dialami oleh penulis sendiri, akan tetapi beberapa rekan sesama alumnipun mengalami hal serupa, karena latar belakang pendidikan D2 dan SK pertama masing-masing ada yang guru agama Islam, guru agama Hindu, bahkan guru mata pelajaran Penjasorkes juga ditolak penyesuaian Ijazahnya.
Timbul dalam benak penulis bahwa jika demikian adanya, maka kerugian besar bagi negara yang telah membiayai penulis dalam rangka mengikuti pendidikan S1 sekaligus pemenuhan kualifikasi pendidikan Sarjana, karena Program PJJ S1 PGSD ini merupakan program beasiswa yang didanai oleh World Bank dan dikelola oleh Dirjen Dikti Kementrian Pendidikan Nasional. Kerugian yang dialami penulis bukan saja materi, tetapi waktu dan tenaga juga mengalami kerugian. Ini menjadi satu catatan bagi Dirjen Dikti Kementrian Pendidikan Nasional untuk menyikapi persoalan yang timbul dan dialami oleh alumni mahasiswa PJJ PGSD bukan saja di Universitas Negeri Gorontalo, tetapi di 23 LPTK se Indonesia yang menjadi sasaran program PJJ S1 PGSD ini. Sampai dengan saat ini penulis tetap berusaha memperjuangkan nasib penulis demi memperoleh pengesahan atas gelar kesarjanaan dan ijazah yang dimiliki penulis.
Dari uraian di atas, ada beberapa hal yang menjadi catatan penulis antara lain:
1. Program PJJ S1 PGSD seharusnya tetap berkelanjutan, mengingat program ini banyak keuntungannya antara lain: mahasiswa dapat memperoleh ilmu mendidik sekaligus memperoleh kompetensi penguasaan IT sehingga para guru yang khususnya guru di sekolah dasar.
2. Program PJJ S1 PGSD memberikan kemudahan bagi para mahasiswa yang berprofesi sebagai guru lebih khusus lagi guru di daerah terpencil untuk dapat meningkatkan kompetensinya sebagai guru karena pembelajarannya berisfat jarak-jauh, dan seluruh tugas-tugas mata kuliah yang diberikan dapat dikerjakan di mana saja dan kapan saja selama ada akses internet di lokasi tersebut untuk melaksanakan tutorial dan konsultasi secara online dengan dosen pemberi mata kuliah.
3. ETA merupakan hal yang baru dan perlu tetap dikembangkan, karena memupuk kreatifitas mahasiswa keguruan pada fakultas ilmu pendidikan untuk menguasai IT. Di samping itu pula, ETA ini merupakan bentuk tugas akhir yang berbeda dengan tugasnya akhir mahasiswa pada umumnya dalam rangka penyelesaian akhir studi.
4. Proses perekrutan mahasiswa yang berstatus sebagai guru tetap harus dibatasi khusus untuk lulusan D2 PGSD, sehingga tidak akan berpengaruh pada proses penyesuaian Ijazah nanti sebagaimana dialami oleh penulis dan rekan-rekan mahasiswa Program PJJ S1 PGSD Angkatan 2006/2007 Universitas Negeri Gorontalo.

Mahasiswa Angkatan 2006/2007
PJJ S1 PGSD Universitas Negeri Gorontalo
Raharjo Ismail
»»  baca selengkapnya

Terima Kasih atas Kunjungan Anda


Tulislah pesan nama dan pesan Anda di bawah ini




Nama *



Email *



Subject *



Pesan *




Image Verification

captcha

Please enter the text from the image:

[Refresh Image] [What's This?]


Powered byEMF Online Form Builder
Report Abuse
»»  baca selengkapnya

Selamat Datang di Blog Kami

Selamat datang di Blog Kami. Dalam rangka mempererat tali silaturrahmi antar Alumni Program PJJ PGSD Universitas Negeri Gorontalo baik angkatan I, II maupun III, kami hadir dengan berbagai informasi seputar program PJJ S1 PGSD serta informasi lainnya yang bermanfaat bagi para alumni dan masyarakat umum yang mengakses blog ini terutama bagi para guru di sekolah dasar di seluruh pelosok nusantara. Terima kasih atas kunjungan Anda, dan kami berharap dapat meninggalkan komentar pada kolom yang telah kami sediakan demi kemajuan blog ini.

Wassalam
Admin
»»  baca selengkapnya
 
Ikatan Alumni PJJ S1 PGSD Universitas Negeri Gorontalo | Original Concept and Design by My Blogger Themes | Developed by Raharjo Ismail
SELAMAT DATANG DI BLOG IKATAN ALUMNI PJJ S1 PGSD UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO || BLOG KOMUNITAS PARA ALUMNI PJJ S1 PGSD UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO ANGKATAN I (2006/2007) || MARI BERSAMA KITA BANGUN NEGERI PERSADA NUSANTARA INI DENGAN MEMAJUKAN DUNIA PENDIDIKAN YANG BERWAWASAN IPTEK DAN IMTAQ DEMI KEJAYAAN BANGSA INI || KAMI BERHARAP ANDA DAPAT MEMBERIKAN KOMENTAR PADA KOLOM YANG TELAH KAMI SEDIAKAN DEMI KEMAJUAN BLOG INI || TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA